M Iqbal - detikNews
Jakarta - Sebanyak 10 WNI yang hendak
terbang dari Istanbul menuju provinsi yang berbatasan dengan Suriah,
Hatay, dipaksa turun dari pesawat Turkish Airline dan ditahan polisi
kontra terorisme di Bandara Ataturk selama 4 jam. Konsulat Jenderal RI
(KJRI) menyayangkan adanya peristiwa penahanan itu.
"Saya prihatin dan sedih sekali tujuan dan misi bapak-bapak tidak maksimal, terhambat, meski kemarin sore saya dengar misi memberikan bantuan (untuk Suriah) sudah dilakasanakan," kata pelaksana tugas KJRI Istanbul, Harlan H Hakim, dalam pertemuan dengan rombongan di kantornya, Rabu (3/5/2015).
Menurut Harlan, seharusnya peristiwa tersebut tak terjadi jika ada koordinasi dan komunikasi yang baik. Panitia rombongan dari Forum Indonesia Peduli Syam (FIPS) sudah berkomunikasi dengan KJRI Istanbul dan KBRI Turki, namun khusus KBRI Turki hanya melalui telepon dan email belum ada pertemuan.
"Saya juga ingin sampaikan inilah tipikal negara yang kita berada sekarang Turki, dan daerah itu (Hatay) memang menjadi kawasan khusus oleh pemerintah Turki," ujarnya soal perilaku kasar polisi saat menggeledah rombongan FIPS di bandara.
"Kami di sini KJRI Istanbul tugas utamanya memberikan pelayan terbaik kepada WNI yang datang, transit atau berkunjung ke sini. Harapan kami yang akan datang tidak terjadi lagi," imbuhnya.
Sementara itu, Sekjen FIPS Wisnu Teguh, mengatakan kedatangan pihaknya ke Turki dengan mengundang 3 tokoh organisasi Islam Indonesia dan 3 wartawan, untuk memberikan bantuan bagi korban krisis kemanusiaan di Suriah.
Selain itu, misi pentingnya adalah untuk melaporkan tentang kondisi Suriah yang ditimpa krisis kemanusiaan karena penindasan rezim Presiden Bashar kepada rakyat yang mengingkan pergantian rezim. Terlebih, karena isu kemanusiaan Suriah di Indonesia tertutupi isu ISIS.
"Saya prihatin dan sedih sekali tujuan dan misi bapak-bapak tidak maksimal, terhambat, meski kemarin sore saya dengar misi memberikan bantuan (untuk Suriah) sudah dilakasanakan," kata pelaksana tugas KJRI Istanbul, Harlan H Hakim, dalam pertemuan dengan rombongan di kantornya, Rabu (3/5/2015).
Menurut Harlan, seharusnya peristiwa tersebut tak terjadi jika ada koordinasi dan komunikasi yang baik. Panitia rombongan dari Forum Indonesia Peduli Syam (FIPS) sudah berkomunikasi dengan KJRI Istanbul dan KBRI Turki, namun khusus KBRI Turki hanya melalui telepon dan email belum ada pertemuan.
"Saya juga ingin sampaikan inilah tipikal negara yang kita berada sekarang Turki, dan daerah itu (Hatay) memang menjadi kawasan khusus oleh pemerintah Turki," ujarnya soal perilaku kasar polisi saat menggeledah rombongan FIPS di bandara.
"Kami di sini KJRI Istanbul tugas utamanya memberikan pelayan terbaik kepada WNI yang datang, transit atau berkunjung ke sini. Harapan kami yang akan datang tidak terjadi lagi," imbuhnya.
Sementara itu, Sekjen FIPS Wisnu Teguh, mengatakan kedatangan pihaknya ke Turki dengan mengundang 3 tokoh organisasi Islam Indonesia dan 3 wartawan, untuk memberikan bantuan bagi korban krisis kemanusiaan di Suriah.
Selain itu, misi pentingnya adalah untuk melaporkan tentang kondisi Suriah yang ditimpa krisis kemanusiaan karena penindasan rezim Presiden Bashar kepada rakyat yang mengingkan pergantian rezim. Terlebih, karena isu kemanusiaan Suriah di Indonesia tertutupi isu ISIS.

0 Komentar untuk "KJRI Istanbul Undang 10 WNI yang Sempat Ditahan Polisi di Bandara "