-->
Motivasi Menulis
Bisnis Online
Prihatin! 8 Juta Orang Terkena Dampak Gempa 7,9 SR di Nepal

Prihatin! 8 Juta Orang Terkena Dampak Gempa 7,9 SR di Nepal

Novi Christiastuti Adiputri - detikNews

Prihatin! 8 Juta Orang Terkena Dampak Gempa 7,9 SR di Nepal  
Reuters 
 
Kathmandu - PBB mencatat sekitar 8 juta orang terkena dampak cukup besar akibat gempa bumi 7,9 Skala Richter (SR) yang melanda Nepal. PBB juga menyerukan dibutuhkannya bantuan kemanusiaan segera untuk korban gempa, mulai dari terpal dan air bersih hingga sabun dan obat-obatan.

"Menurut penghitungan awal dan didasarkan pada pemetaan gempa, sekitar 8 juta orang di sebanyak 39 distrik terkena dampak, dan lebih dari 3 juta orang hidup di 11 distrik yang terdampakpaling parah," demikian pernyataan UN Office of the Resident Coordinator, seperti dilansir Reuters, Selasa (28/4/2015).

Gempa bumi yang mengguncang wilayah Nepal dan sekitarnya pada Sabtu (25/4) memicu kehancuran besar, terutama di wilayah ibukota Kathmandu. Rumah warga yang didominasi lumpur dan batu bata luluh lantak akibat getaran gempa yang dirasakan sangat kuat.

UN Children's Fund (UNICEF) menyebut suplai makanan dan air bersih bagi para pengungsi semakin berkurang. Di Kathmandu Vallery, kehidupan warga terhenti menghilang selama 2 hari setelah gempa. Hanya sejumlah toko kelontong yang buka, namun gedung-gedung besar termasuk pusat perbelanjaan masih tutup.

Banyak mobil dan truk yang mengantre untuk mengisi bahan bakar. Bank-bank setempat masuk tutup, ATM masih berfungsi namun tidak ada aktivitas pengisian uang oleh pihak bank setempat.

Memasuki malam ketiga, para pengungsi masih tinggal di dalam tenda-tenda dan juga di area terbuka lainnya. Sekitar 21 kamp pengungsian didirikan di area terbuka di sekitar Kathmandu.

Sementara itu, World Food Programme mengirimkan bantuan makanan dan logistik dengan truk. UNICEF sendiri mengirimkan bantuan berupa tenda dan suplai medis, sedangkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyalurkan bantuan suplai medis untuk 40 orang.

 Bantuan kemanusiaan internasional dari berbagai negara sudah mulai dikirimkan, namun tidak semua bisa mencapai lokasi bencana dengan segera. Beberapa pekerja medis menuturkan, bantuan yang sudah tiba di Kathmandu kesulitan untuk disalurkan langsung ke lokasi bencana, karena minimnya personel serta transportasi untuk membawa bantuan-bantuan itu.

Beberapa lembaga kemanusiaan memutuskan untuk mengirimkan bantuan via darat dari wilayah India. Namun dengan komunikasi yang terbatas dan kondisi jalanan yang rusak atau terblokir akibat tanah longsor, penyaluran bantuan lagi-lagi mengalami hambatan, terlebih untuk menjangkau wilayah terpencil yang sangat membutuhkan bantuan.

Sejauh ini, total jumlah korban tewas akibat gempa di Nepal menembus angka 4.100 orang dan korban luka mencapai 7.500 orang. Otoritas setempat memperkirakan, jumlah korban tewas akan terus bertambah hingga 5 ribu orang.

(nvc/ita)
Ini Daftar Nama 54 WNI di Nepal, 41 Sudah Bisa Dihubungi

Ini Daftar Nama 54 WNI di Nepal, 41 Sudah Bisa Dihubungi

Yudhistira Amran Saleh - detikNews

Ini Daftar Nama 54 WNI di Nepal, 41 Sudah Bisa Dihubungi 
 Foto: Athit Perawongmetha/Reuters 
 
Jakarta - Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI telah merilis 54 nama para Warga Negara Indonesia (WNI) yang berada di Nepal. Sebagaimana diketahui, Nepal baru saja diguncang gempa 7,9 Skala Richter pada Sabtu (25/4) lalu.

Di antara mereka yang berhasil terlacak nasibnya, sebagian ada yang tinggal di jalan seperti Fitri Rosdiana. Ada pula yang tertahan di bandara setempat, yakni Yospina Opang. Sebagian dari mereka juga ada yang sudah pulang ke Jakarta, Indonesia.

Beberapa dari mereka bahkan rela menjadi tenaga medis membantu para korban gempa yang sejauh ini telah merenggut lebih dari 4 ribu nyawa itu. Namun ada pula 13 orang yang belum bisa dihubungi. Bahkan ada satu orang yang masih belum diketahui namanya.
Berikut adalah nama-nama yang berhasil didata pihak Kemlu:
Daftar 54 WNI yang berada di Nepal.
Keterangan:
Nomor 1-18 adalah WNI yang menetap di Nepal.
BD= Belum dapat dihubungi

1. Diah Ismaya, status: telah dihubungi KBRI dalam keadaan baik
2. Winarti Karyono, status: telah dihubungi KBRI dalam keadaan baik
3. Ari Isyanawati, status: BD
4. Samini, status: telah dihubungi KBRI dalam keadaan baik
5. Evi Nurlaila Ana, status: telah dihubungi dalam keadaan baik
6. Fitri Rosdiana, status: sementara tinggal di jalan dengan suami
7. Freddy Lawrens, status: berada di Jakarta
8. Grace Tarigan, status: berada di Jakarta
9. Aprieri Dwi, status: mengungsi di kantor GIZ
10. Maria E. Putuhena, status: BD
11. Toyibah, status: BD
12. Maya Apriyani, status: telah berkomunikasi dengan Grace Tarigan, dalam keadaan baik
13. Ariani Hasanah, status: telah dihubungi KBRI dalam keadaan baik
14. Ni Putu Purniawati, status: ada di Dubai
15. Parsiah Majudi, status: BD
16. Purwanti, status: BD
17. Ni Komang Widianingsih, status: BD
18. Wayan Kushle, status: telah dihubungi KBRI dalam keadaan baik

Yang bukan WNI menetap:
19. Ahmad Taufan Damanik, ASEAN ACWC, kondisi baik bisa dihubungi
20. Esther Indriani, World Vision, kondisi baik bisa dihubungi
21. Laura Hukom, World Vision, kondisi baik bisa dihubungi
22. Dhiana Anggraeni, World Vision, kondisi baik bisa dihubungi
23. Emmy Lucy, World Vision, kondisi baik bisa dihubungi
24. Tessy Ananditya, treking di Annapurna, status: dalam kondisi baik dan sudah dapat dihubungi. Saat ini berada di Mutinah untuk membantu medis.
25. Sapta Hudaya, treking di Annapurna, status: dalam kondisi baik bersama dengan Sdri. Tessi
26. Alma Parahita, Taruna Hiking Club, status: BD
27. Kadek Andana, Taruna Hiking Club, status: BD
28. Jeroen Hehuwat, Taruna Hiking Club, status: BD
29. Nuri Arunbiati, info melalui FB, kondisi baik
30. Virgo Dirgantara, operator oleh Himalaya Guides, status: sudah bisa dihubungi dalam keadaan baik
31. Handri Ramdhani, operator oleh Himalaya Guides, status: sudah bisa dihubungi dalam kondisi baik
32. Nicko Ronny, operator oleh Himalaya Guides, status: sudah bisa dihubungi dalam kondisi baik
33. Ong Kim Han, status: kondisi baik berada di hotel Durbar Square
34. Yanti, status: kondisi baik berada di hotel Durbar Square
35. Sri Purna Widari, status: terakhir menghubungi adiknya di Indonesia setelah gempa, yang bersangkutan berada di RS
36. Fadli Andrian, status: dalam kondisi baik dan bisa dihubungi oleh keluarga via Line
37. Yospina Opang, status: dalam kondisi baik, stuck di bandara
38. Agustina Soleh, status: Sudah menghubungi keluarga, dalam keadaan baik
39. Muhammad Insan Kamil, status: dalam kondisi baik, stuck di bandara
40. Cecilia Enny, status: dalam kondisi baik dan akan membantu medis di Kathmandu
41. dr. Meinardi Mastur, status: dalam keadaan baik dan akan membantu medis di Kathmandu
42. dr. Ahmad Novel, status: dalam keadaan baik dan akan membantu medis di Kathmandu
43. dr. Prabudi, status: dalam keadaan baik dan akan membantu medis di Kathmandu
44. dr. Eko Prasetyo, status: dalam keadaan baik dan akan membantu medis di Kathmandu
45. Gama Wardhani: dalam keadaan baik berada di airport
46. Lewis Cassidy: dalam keadaan baik berada di airport
47. Hafid Zulkarnaen: dalam keadaan baik dan sempat bisa dihubungi oleh keluarga
48. Hendry Renaldo: BD
49. Dewi Pancaringtyas Asih: BD
50. Kusumorini Susanto: dalam keadaan baik dan bisa dihubungi
51. Rainul Ria: BD
52. Teman dari Rainul Ria (WNI, belum diketahui namanya,informasi dari keluarga Rainul Ria): BD
53. Ardyan Hafizh: dalam keadaan baik dan bisa dihubungi
54. Sutansyah Marahakim: dalam keadaan baik dan bisa dihubungi

(dnu/bar)
Jokowi: Indonesia Siap Beri Bantuan untuk Gempa Nepal

Jokowi: Indonesia Siap Beri Bantuan untuk Gempa Nepal

Mega Putra Ratya - detikNews

Jokowi: Indonesia Siap Beri Bantuan untuk Gempa Nepal
Jakarta - Gempa meluluhlantakkan Nepal. Infrastruktur rusak dan ribuan orang tewas. Pemerintah Indonesia siap membantu untuk tragedi kemanusian itu.

"Indonesia siap membantu. Baru disiapkan," kata Presiden Jokowi di Bandara Halim Perdanakusuma sebelum berangkat ke Malaysia untuk mengikuti KTT ASEAN, Minggu (26/4/2015).

Gempa berkekuatan 7,9 SR mengguncang Nepal dan terasa hingga negara-negara tetangga, seperti Pakistan, Bangladesh dan India, Sabtu (25/4) kemarin. Ibu Kota Kathmandu terkena dampak paling parah. Berdasarkan data sementara, hingga Minggu (26/4/2015) sebanyak 1.953 orang tewas dan ribuan lainnya terluka.

Sekitar 100 pendaki diperkirakan terjebak di base camp 1 dan 1 di puncak Everest. Para pendaki selamat meski terkena longsoran salju usai gempa.

Berdasarkan data Kemlu, Minggu (26/4/2015), 18 orang menetap di Nepal dan 15 berkunjungan ke Nepal, termasuk di antaranya pendaki Gunung Everest.

WNI yang menetap di Nepal:

1. Diah Ismaya, status: baik
2. Winarti Karyono, status: baik
3. Ari Isyanawati, status: belum dapat dihubungi (BD)
4. Samini, status: baik
5. Evi Nurlaila Ana, status: baik
6. Fitri Rosdiana, status: teridentifikasi selamat
7. Freddy Lawrens, status: BD
8. Grace Tarigan, status: BD
9. Aprieri Dwi, status: teridentifikasi selamat
10. Maria E. Putuhena, status: BD
11. Toyibah, status: BD
12. Maya Apriyani, status: BD
13. Ariani Hasanah, status: baik
14. Ni Putu Purniawati, status: sedang berada di luar negeri
15. Parsiah Majudi, status: BD
16. Purwanti, status: BD
17. Samini, status: BD
18. Wayan Kushle, status: baik

WNI berstatus pengunjung:

19. Ahmad Taufan Damanik, ASEAN ACWC, status: sedang diklarifikasi
20. Esther Indriani, World Vision, status: baik
21. Laura Hukom, World Vision, status: baik
22. Dhiana Anggraeni, World Vision, status: baik
23. Emmy Lucy, World Vision, status: baik
24. Tessy Ananditya, treking di Annapurna, status: BD
25. Sapta Hudaya, treking di Annapurna, status: BD
26. Alma Parahita, Taruna Hiking Club, status: BD
27. Kadek Andana, Taruna Hiking Club, status: BD
28. Jeroen, Taruna Hiking Club, status: BD
29. Nuri Arunbiati, info melalui FB, kondisi baik
30. Virgo Dirgantara, operator oleh Himalaya Guides, status: BD, diperkirakan berada di Lobuche
31. Handri Ramdhani, operator oleh Himalaya Guides, status: BD, diperkirakan berada di Lobuche
32. Nicko Ronny, operator oleh Himalaya Guides, status: BD, diperkirakan berada di Lobuche
33. Ong Kim Han, status: baik
34. Yanti, status: baik

(try/mpr)
Trekking di Annapurna, 2 WNI Hobi Fotografi Ini Belum Bisa Dikontak Usai Gempa

Trekking di Annapurna, 2 WNI Hobi Fotografi Ini Belum Bisa Dikontak Usai Gempa

Rachmadin Ismail - detikNews

Trekking di Annapurna, 2 WNI Hobi Fotografi Ini Belum Bisa Dikontak Usai Gempa  
Sapta Hudaya (dok. Fikri) 
 
Jakarta - Dua orang WNI sedang trekking di Gunung Annapurna, Nepal, saat gempa berkekuatan 7,9 skala richter (SR) terjadi. Hingga kini, sahabat dan keluarga masih menunggu kabar dari mereka.

WNI tersebut adalah Sapta Hudaya (28) dan Tessi Ananditya (28). Mereka adalah pria dan wanita yang memiliki hobi fotografi. Menurut salah seorang rekan Sapta, Fikri, sejak awal April lalu mereka sudah berada di Nepal, untuk berburu foto dan menggelar pemeran.

"Mereka berencana satu bulan penuh di sana. Dari komunikasi dengan saya, mereka sempat pameran foto di sana," kata Fikri saat berbincang dengan detikcom, Minggu (26/4/2015).

Komunikasi terakhir Fikri dengan Sapta terjadi pada 16 April lalu. Saat itu, kedua WNI tersebut sedang dalam perjalanan bus menuju kawasan Annapurna, untuk trekking-- aktivitas hobi menjelajahi jalur setapak di alam terbuka--.

"Selain trekking, mereka mau hunting foto juga. Mereka bilang mau trekking selama 14 hari. Artinya 30 April seharusnya kembali," tambah Fikri.

Kawasan Annapurna adalah salah satu area pendakian di Himalaya. Puncaknya memiliki ketinggian 8.091mdpl, sementara Everest sebagai puncak tertinggi dunia 8.848mdpl.

Menurut Fikri, ada kemungkinan Sapta dan Tessi sulit dihubungi karena memang tak ada sinyal ponsel yang bisa digunakan di area pendakian. Yang pasti, hingga saat ini keluarga dan rekan-rekannya masih mencari informasi ke pihak Kementerian Luar Negeri.

 "Mereka itu visanya on arrival di sana. Mereka tidak pake agen travel, tapi untuk naik gunungnya itu info terakhir dengan guide. Nama mereka kata orang Kemlu sudah ada dalam daftar manifes WNI di Nepal, tinggal cari paspornya saja," terang Fikri.
Sebelum berangkat ke Nepal, Sapta sempat menjadi fotografer prewedding Fikri. Kini, dia berharap agar sahabatnya itu segera bisa memberi kabar dan menepati janji untuk kembali ke Tanah Air dan menghadiri pernikahannya.

"Dia janji datang ke nikahan saya bulan depan," harap Fikri.
Pihak Kemlu saat dikonfirmasi soal dua WNI ini belum memberikan respons. Direktur perlindungan WNI Lalu M. Iqbal dan juru bicara Kemlu Arrmanatha Nasir belum menjawab pertanyaan detikcom.

Hanya saja, pada pemberitaan sebelumnya, Lalu M Iqbal mendapat informasi ada tiga WNI yang selamat dari Everest. Namun dia tak menyebut identitas mereka.

"Kita belum dapat informasi dari 3 orang yang selamat itu siapa dan asal mana saja. Kita juga belum tahu ada atau tidaknya rombongan lain," kata Lalu.

(mad/try)


Gempa Nepal tewaskan 1.341 jiwa, WNI berpotensi jadi korban

Gempa Nepal tewaskan 1.341 jiwa, WNI berpotensi jadi korban

Reporter : Ardyan Mohamad


Gempa Nepal tewaskan 1.341 jiwa, WNI berpotensi jadi korban
Gempa dahsyat guncang Nepal. ©REUTERS/Navesh Chitrakar


Merdeka.com - Gempa bumi 7,9 Skala richter di Nepal kemarin siang (25/4) waktu setempat, berujung petaka buat ribuan warga. Data terakhir Kepolisian, 1.341 orang tewas, sementara lebih dari 1.700 orang luka-luka. Warga Negara Indonesia pun terancam jadi korban. Data Kementerian Luar Negeri mencatat ada 50 WNI kini berada di berbagai kota Nepal.
Lindu mahadahsyat ini berdampak hingga ke wilayah India, tepatnya Negara Bagian Uttar Pradesh, yang turut melaporkan 28 warga tewas. Gunung Everest pun mengalami longsor setelah gempa tersebut, sehingga sejauh ini 10 pendaki tewas tertimbun salju.
Ketua Palang Merah Nepal, Jagan Chapagain, menyatakan bencana ini adalah yang terparah dialami negara tersebut setelah gempa 1934.
"Dampak kerusakan masih belum bisa dipastikan sampai sekarang. Tapi dipastikan ini bencana paling mematikan pernah dialami Nepal," ujarnya.

Laporan masuk, beberapa desa di pusat gempa yang jaraknya 80 kilometer dari Ibu Kota Khatmandu, belum dapat diakses relawan. Kondisi Khatmandu juga rusak berat, sampai-sampai Menara Dharhara di pusat kota setinggi sembilan lantai gedung ambruk.

Uni Eropa langsung mengucurkan bantuan senilai USD 3,9 juta untuk Nepal. Organisasi kemanusiaan internasional dilaporkan langsung berdatangan ke negara yang wilayahnya di lereng pegunungan Himalaya tersebut.
Hingga berita ini dilansir ribuan warga yang mengungsi masih berada di lapangan tanpa bantuan berarti, termasuk makanan maupun obat-obatan. Selain trauma, korban terancam suhu dingin ekstrem hingga beberapa hari ke depan.
[ard]
Back To Top