-->
Motivasi Menulis
Bisnis Online
Prabowo Dukung Jokowi Soal Gatot Jadi Calon Panglima dan Sutiyoso CakaBIN

Prabowo Dukung Jokowi Soal Gatot Jadi Calon Panglima dan Sutiyoso CakaBIN

Indah Mutiara Kami - detikNews

Prabowo Dukung Jokowi Soal Gatot Jadi Calon Panglima dan Sutiyoso CakaBIN
Jakarta - Presiden Joko Widodo telah menunjuk KSAD Jenderal Gatot Nurmantyo sebagai calon Panglima TNI dan Sutiyoso sebagai calon kepala BIN. Mantan Danjen Kopassus Letjen (Purn) Prabowo Subianto menilai keduanya sebagai calon yang baik.

"Kami menilai dua-duanya perwira yang baik," kata Prabowo yang kini merupakan Ketum Partai Gerindra tersebut. Hal ini disampaikannya usai menghadiri Rapimnas Golkar di Hotel Shangri-La, Jakarta Pusat, Jumat (12/6/2015).

Terkait Panglima TNI, Prabowo menilai tidak ada aturan yang mengharuskan dijabat secara bergiliran dari AL, AD, dan AU. Semuanya merupakan hak prerogatif presiden.

"Saya kira tidak harus bergilir secara langsung yang penting ada kesempatan untuk semuanya. Yang penting yang terbaik," ucap mantan Pangkostrad ini.

Sementara itu, soal Sutiyoso yang dikaitkan dengan peristiwa penyerangan Kantor PDI atau Kudatuli, Prabowo meminta agar masyarakat tidak menuduh. Menurutnya, Sutiyoso harus diberi kesempatan.

"Saya kira kita jangan terus menuduh, dia kan juga perwira yang menjalakan tugas," ujar Prabowo.

(imk/kha)
Apa PR Jenderal Gatot Bila Jadi Panglima TNI? Ini Kata Jenderal Moeldoko

Apa PR Jenderal Gatot Bila Jadi Panglima TNI? Ini Kata Jenderal Moeldoko

Idham Khalid - detikNews

Apa PR Jenderal Gatot Bila Jadi Panglima TNI? Ini Kata Jenderal Moeldoko
Jakarta - Panglima TNI Jenderal Moeldoko enggan menanggapi perihal dipilihnya KSAD Jenderal Gatot Nurmantyo sebagai calon Panglima TNI oleh Presiden Joko Widodo. Menurut Moeldoko, sesuatu yang telah menjadi keputusan Presiden, tidak perlu ditanggapi lagi. Tapi, apa yang menjadi 'pekerjaan rumah' Gatot saat menjabat nantinya?

"Oh itu nanti dalam memorandum ada disebutkan di situ, hal-hal yang sudah diselesaikan Panglima TNI, yang belum diselesaikan untuk dilanjutkan, ini ini dan seterusnya, ada nanti," kata Moeldoko.

Moeldoko menyampaikan hal tersebut kepada wartawan usai menerima penghargaan dari Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI)‎ yang digelar di Hotel Grand Sahid Jakarta Selatan, Jumat (12/6/2015) malam. Penghargaan itu merupakan bentuk penghormatan atas kontribusi TNI terhadap perdamaian dunia.

Moeldoko juga enggan menjawab saat ditanya syarat-syarat apa yang belum dipenuhi Gatot untuk menjadi Panglima TNI. "Kok tanya saya lho, nantikan saat fit and proper test ketahuan semuanya. Tunggu sajalah‎," ujarnya.

"Ada nama lain nggak dari Bapak selain Pak Gatot?" tanya wartawan lagi.

‎"Nggak ada didiskusikan lagi, sudahlah, tanya (pertanyaan) yang lain, baru saya jawab," tutur Moeldoko.

Sementara saat disinggung apakah Moeldoko optimis Jenderal Gatot dapat melanjutkan keberhasilan kinerja TNI dari yang telah dicapai saat ini, Moeldoko menjawab singkat.

‎"Setiap orang memiliki kemampuan, setiap orang memiliki kelebihan, ya," pungkasnya.


(idh/kha)
Jokowi Pilih Gatot Jadi Panglima, KontraS: Diduga untuk Stabilitas Politik

Jokowi Pilih Gatot Jadi Panglima, KontraS: Diduga untuk Stabilitas Politik

Jokowi Pilih Gatot Jadi Panglima, KontraS: Diduga untuk Stabilitas PolitikPrins David Saut - detikNews

Jakarta - KSAD Jenderal Gatot Nurmantyo dipilih Presiden Joko Widodo (Jokowi) sebagai Panglima TNI. Menanggapi hal ini, Koordinator KontraS Haris Azhar menilai ada alasan tersembunyi dibalik penunjukkan tersebut.

"Soal Panglima TNI, nggak ada catatan pelanggaran HAM. Tapi ini kan mengubah skema permainan," kata Haris di Gedung Mahkamah Konstitusi (MK), Jl Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Rabu (10/6/2015).

Permainan yang dimaksud Haris adalah 'budaya' kursi Panglima TNI yang digilir dari AL, AD dan AU. Hal ini karena Gatot adalah jenderal bintang tiga dari TNI AD‎, sementara Panglima TNI saat ini Jenderal Moeldoko berasal dari kesatuan yang sama.

"Yang disesali, Jokowi kok nggak jelaskan kenapa? Dia cuma bilang ini hak prerogatif tanpa menjelaskan merubah ke AD lagi," ujar Haris.

'Budaya' kursi bergilir Panglima TNI ini telah berawal sejak era pemerintahan presiden ke-4 RI, Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Sehingga, Jokowi dianggap Haris telah merubah kebiasaan yang muncul saat reformasi.

"Mau diubah nggak masalah, tapi apa alasannya? Dugaan saya ini supaya stabilisasi politik karena AD yang bisa menjaga," ucap Haris.

"Kasihan kan Gatot diangkat dengan aura nggak transparan," tambahnya.


(vid/ega)
Tetap Kerja di Solo, ini Foto Jokowi Berbeskap dan Teken Dokumen Negara

Tetap Kerja di Solo, ini Foto Jokowi Berbeskap dan Teken Dokumen Negara

Agung Pambudhy - detikNews
Tetap Kerja di Solo, ini Foto Jokowi Berbeskap dan Teken Dokumen Negara(Foto: Agung Pambudhy/detikcom)
Solo - Meski disibukkan dengan prosesi pernikahan anaknya, Gibran Rakabuming Raka, di Solo, Jawa Tengah, Presiden Jokowi mengaku tetap melaksanakan tugas kenegaraan. Ada bagian rumahnya yang disulap menjadi 'kantor'. Ini penampakan Jokowi saat menghadapi dokumen di rumahnya. 

Usai siraman Gibran, Jokowi yang masih mengenakan beskap dan blangkon menggelar jumpa pers di ruang tamu rumahnya di kawasan Sumber, Solo, Rabu (10/6/2015). Dia menyoroti dua hal. Pertama soal penunjukan KSAD Jenderal Gatot Nurmantyo sebagai Panglima TNI, kedua soal pengangangkatan Sutiyoso sebagai Kepala BIN.

"Saya berharap DPR menyetujui karena (penunjukan) itu sudah melalui pertimbangan," kata Jokowi sambil duduk menghadap meja kayu berukuran besar.
Di meja tersebut, ada setumpuk dokumen. Bukan dokumen penunjukan KSAD maupun Sutiyoso, melainkan dokumen yang sudah ditandatangani Jokowi sebelumnya. Jokowi membubuhkan tanda tangan ke beberapa dokumen.

Selama di 'kantor', Jokowi didampingi Sekretaris Kabinet Andi Wijayanto yang mengenakan batik lengan panjang. Sesekali, keduanya terlihat berbincang serius. Gibran juga kadang masuk ke ruangan, lalu segera keluar lagi. Jokowi dijadwalkan kembali ke Jakarta pada Jumat (12/6) setelah pernikahan anaknya selesai.

(try/nrl)
Soal Panglima TNI, Menko Tedjo: Jenderal Gatot Paling Senior

Soal Panglima TNI, Menko Tedjo: Jenderal Gatot Paling Senior

Indah Mutiara Kami - detikNews
Soal Panglima TNI, Menko Tedjo: Jenderal Gatot Paling Senior
Jakarta - Presiden Joko Widodo telah menunjuk KSAD Jenderal Gatot Nurmantyo sebagai calon Panglima TNI. Menko Polhukam Tedjo Edhy Purdjiatno menilai Gatot sebagai sosok senior yang bisa diandalkan. 

"Beliau prajurit yang selalu turun ke bawah, bekerja bersama para prajurit. Punya kemampuan operasional dan bisa diandalkan," kata Tedjo di Gedung DPR, Senayan, Jakarta Pusat, Rabu (10/6/2015). 

Tedjo menuturkan bahwa baik KSAU, KSAL, maupun KSAD sebenarnya memenuhi syarat untuk menjadi Panglima TNI. Di antara ketiganya, Gatot adalah yang paling senior. Gatot merupakan lulusan Akabri tahun 1982. 

"Gatot ini yang paling senior. Dia lulusan 1982, yang dua lainnya 1983. Pertimbangan lain, presiden punya dong," ucapnya. 
Jokowi selama ini selalu menggaungkan visi maritim dalam pemerintahannya. Meski nantinya jabatan Panglima TNI dipegang sosok dari angkatan darat, Tedjo yakin hal itu tak masalah.

"Seorang panglima TNI dari AD tidak hanya pikirkan AD. Tapi pikirkan keseluruhan," ujar Tedjo.

(imk/ndr)

Back To Top