-->
Motivasi Menulis
Bisnis Online
Investor Perancis tinjau lokasi pembangunan National Science and Technology Park

Investor Perancis tinjau lokasi pembangunan National Science and Technology Park

 | 3.109 Views


Rombongan investor dari Perancis yang didampingi Yusran Aspar tersebut, harus menempuh jalur laut sekitar 30 menit perjalanan untuk sampai ke lokasi pembangunan NSTP dengan menggunakan "speedboat" milik pemerintah setempat.

Investor asal Perancis tersebut lanjut Yusran Aspar, melihat langsung lokasi pembangunan NSTP di Kawasan Industri Buluminung atau KIB yang sebagian besar hutan "mangrove" atau hutan bakau masih terjaga dengan baik.

Peninjauan lokasi pembangunan NSTP di KIB tersebut menurut Yusran Aspar, sebagai bukti keseriusan investor dari Perancis tersebut membangun NSTP di Kabupaten Penajam Paser Utara.

"Jika pembangunan ini bermuara pada peningkatan kesejahteraan masyarakat Penajam Paser Utara, maka pemerintah daerah akan mendukung penuh investasi itu," tambahnya. 
Pembangunan fisik NSTP dijadwalkan dimulai pada 2017 dan tahun ini (2016) Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara, menyelesaikan proses pembebasan lahan seluas 57 hektare sebagai lokasi pembangunan NTSP tersebut.
Editor: B Kunto Wibisono
COPYRIGHT © ANTARA 2016
 Puing sayap pesawat diduga MH370 sudah di Prancis

Puing sayap pesawat diduga MH370 sudah di Prancis


Puing sayap pesawat diduga MH370 sudah di Prancis
Polisi memeriksa potongan puing dari pesawat tak teridentifikasi yang ditemukan di sekitar Saint-Andre de la Reunion di Pulau La Reunion di Samudera Hindia, Rabu 29 Juli 2015. Pakar penerbangan menduga ini adalah bagian dari pesawat Malaysia Airlines MH370 yang hilang di Samudera Hindia 8 Maret 2014. (Reuters)
 
Saint-Andre (ANTARA News) - Sebuah potongan puing Boeing 777 yang terdampar di sebuah pulau di Samudera Hindia tiba di Paris Sabtu pagi waktu setempat, setelah pihak berwenang Malaysia yakin potongan ini hampir pasti berasal dari Malaysia Airlines MH370.

Bagian sayap pesawat itu sampai di Bandara Orly Paris sekitar pukul 6 pagi waktu setempat (11 pagi WIB) diangkut penerbangan Air France yang meninggalkan Pulau La Reunion Jumat malam.

Jika dibenarkan oleh analisis di sebuah laboratorium pertahanan Prancis di kota Toulouse, penemuan itu akan menandai terobosan pertama dalam kasus yang selama 16 bulan membuat bingung para pakar penerbangan.

"Saya yakin kita semakin dekat untuk memecahkan misteri MH370. Penemuan ini bisa menjadi bukti yang meyakinkan bahwa MH370 jatuh di Samudera Hindia,” kata Wakil Menteri Transportasi Malaysia Abdul Aziz Kaprawi kepada AFP.

Penerbangan Malaysia Airlines ini hilang 8 Maret 2014 pada rute Kuala Lumpur menuju Beijing, lengkap dengan 239 orang di dalamnya.

Para pejabat Prancis mengatakan analisis bagian sayap ini akan dimulai Rabu pekan depan, bersamaan dengan pemyelidikan sebuah koper yang ditemukan di dekatnya.

Boeing menyjatakan telah mengirimkan tim teknis ke Prancis untuk mempelajari puing pesawat atas permintaan pihak berwenang penerbangan sipil.

"Tujuan kami, bersama dengan seluruh industri penerbangan global, meneruskan tidak hanya dalam menemukan pesawat itu, namun juga mengetahui apa yang telah terjadi dan mengapa," kata Boeing.

Namun sejumlah kalangan mengingatkan sebuah bagian kecil pesawat tidak mungkin benar-benar menyingkapkan salah satu misteri terbesar dalam sejarah penerbangan.

MH370 adalah salah satu tiga pesawat Boeing 777 yang mengalami kecelakaan besar, bersama dengan penembakjatuhan  MH17 di atas Ukraina tahun lalu dan jatuhnya pesawat Asiana Airlines di bandara San Francisco pada 2013 yang membuat tiga orang meninggal dunia.

Foto-foto memperlihatkan komponen sayap dengan tertera nomor stempel "657BB."

"Dari nomor bagian, sudah dipastikan bahwa puing itu berasal dari sebuah pesawat Boeing 777. Informasi ini datang dari MAS (Malaysia Airlines)," kata Aziz kepada AFP.
Editor: Jafar M Sidik
COPYRIGHT © ANTARA 2015
Malaysia dilapori Prancis soal potongan puing diduga MH370

Malaysia dilapori Prancis soal potongan puing diduga MH370


Malaysia dilapori Prancis soal potongan puing diduga MH370
Polisi Prancis memeriksa bagian besar puing pesawat yang ditemukan di pantai Saint-Andre di Pulau La Reunion, Samudera Hindia, yang dimiliki Prancis. (Reuters/Prisca Bigot)
 
Kuala Lumpur (ANTARA News) - Pihak berwenang Prancis sudah menginformasikan pemerintah Malaysia soal penemuan potongan puing pesawat yang terdampar di Pulau La Reunion di Lautan Hindia.

Perdana Menteri Malaysia Datuk Seri Najib Tun Razak mengatakan, laporan awal menyebutkan serpihan pesawat ini kemungkinan dari sebuah pesawat Boeing 777 yang adalah sejenis dengan pesawat dari Malaysia Airlines Penerbangan MH370 yang hilang tahun lalu di Samudera Hindia.

Meski demikian masih diperlukan pengesahan apakah itu berasal dari MH370 yang hilang sejak 8 Maret 2014, kata Najib seperti dikutip berbagai media setempat di Kuala Lumpur, Jumat.

Menurut dia, pemerintah Prancis memberitahukan pada tahap ini masih terlalu awal membuat spekulasi.

Untuk kepastian secepat mungkin, serpihan yang ditemukan itu akan dikirim oleh pihak berwenang Prancis ke kantor BEA terdekat di Toulouse. BEA adalah pihak berwenang di Prancis yang bertanggung jawab mengusut kecelakaan penerbangan sipil.

"Tim khusus Malaysia telah dikerahkan ke Toulouse sekarang, tim ini terdiri dari wakil-wakil dari Kementerian Transportasi, Departemen Penerbangan Sipil, tim penyelidik MH370 dan maskapai penerbangan Malaysia," katanya.
Pada saat yang sama, tim kedua dari Malaysia sedang dalam perjalanan ke lokasi penemuan serpihan di Pulau Reunion itu.

Najib mengatakan, tim penyelidik Malaysia telah disiagakan di lokasi yang konsisten bagi menunjukkan rute dari Lautan Hindia ke Afrika.

Ia menambahkan, begitu menerima informasi atau pengesahan dari pihak berwenang Prancis, pemerintah akan memberitahukannya kepada publik.

"Sebelum ini kami telah menerima banyak laporan yang salah. Saya berjanji kepada keluarga korban, walau apa yang terjadi kami tidak akan berputus asa," ujar dia.

Editor: Jafar M Sidik
COPYRIGHT © ANTARA 2015
Dituduh Sebarkan Kebencian, 40 Imam Asing Diusir dari Prancis

Dituduh Sebarkan Kebencian, 40 Imam Asing Diusir dari Prancis

Rita Uli Hutapea - detikNews Dituduh Sebarkan Kebencian, 40 Imam Asing Diusir dari PrancisParis, - Dalam tiga tahun terakhir, otoritas Prancis telah mendeportasi 40 imam asing karena dianggap menyebarkan kebencian. Sebanyak seperempat di antaranya dideportasi dalam waktu enam bulan terakhir.

Demikian disampaikan Menteri Dalam Negeri Prancis Bernard Cazeneuve seperti dilansir kantor berita AFP, Senin (29/6/2015).

Menteri Prancis itu telah bersumpah akan mengambil tindakan terhadap masjid-masjid dan para pendakwah yang mengajarkan kebencian. Hal itu disampaikan Cazeneuve menyusul serangan brutal di pabrik gas di dekat kota Lyon pekan lalu. Dalam serangan itu, seorang pria tewas dengan kepala terpenggal.

"Setiap pendakwah kebencian dari luar negeri akan dideportasi," cetus Cazeneuve.


Diimbuhkannya, beberapa masjid saat ini tengah dalam penyelidikan karena diduga menghasut terorisme. Jika dugaan tersebut terbukti, maka masjid-masjid tersebut akan ditutup.
"Kami telah mendeportasi 40 pendakwah kebencian sejak 2012. Sejak awal tahun ini, kami telah memeriksa 22 kasus, dan sekitar 10 imam dan pendakwah kebencian telah diusir," jelas Cazeneuve.

Sebelumnya pada Minggu, 28 Juni waktu setempat, Yassin Salhi mengaku membunuh dan memenggal kepala seorang pria di dekat kota Lyon. Korban tewas dalam serangan ini diidentifikasi sebagai Herve Cornara (54) yang merupakan atasan pelaku, yang bekerja di perusahaan transportasi pengiriman barang.

Salhi yang seorang ayah dari tiga anak ini, ditangkap polisi di lokasi kejadian ketika berusaha meledakkan kompleks pabrik gas milik perusahaan asal Amerika Serikat, Air Products yang ada di kota Saint-Quentin-Fallavier, pinggiran Prancis. Salhi kini ditransfer ke Paris untuk diinterogasi lebih lanjut oleh satuan kepolisian khusus antiteroris.


(ita/ita)

Prancis Melawan, Jaksa: Hukuman Mati Perang Lawan Peredaran Narkoba

Prancis Melawan, Jaksa: Hukuman Mati Perang Lawan Peredaran Narkoba

Dhani Irawan - detikNews

Prancis Melawan, Jaksa: Hukuman Mati Perang Lawan Peredaran Narkoba
Jakarta - Gelombang protes dan ancaman kembali ditujukan pada pemerintah Indonesia menjelang pelaksanaan eksekusi terpidana mati kasus narkotika. Kali ini Prancis dan Australia yang paling getol melawan, lantaran warga negaranya masuk dalam daftar terpidana mati yang akan dieksekusi.

Kejaksaan Agung (Kejagung) yang merupakan eksekutor pelaksanaan hukuman mati menegaskan bahwa proses penegakan hukuman mati adalah amanat Undang-undang.

"Penegakan Undang-undang secara konsisten merupakan salah satu upaya menjaga kedaulatan hukum kita. Pemerintah dan masyarakat internasional harus menghormati kedaulatan hukum kita sebagaimana kita juga menghormati kedaulatan hukum mereka," kata Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapuspenkum) Tony T Spontana ketika berbincang, Senin (27/4/2015).

Sekali lagi, jaksa menyatakan bahwa tekanan dari negara-negara lain tidak berpengaruh pada pelaksanaan eksekusi mati. Oleh sebab itu, para terpidana mati diberi kesempatan menggunakan hak-haknya sampai proses hukumnya tuntas.

"Kecaman ataupun tekanan dari pemerintah dan masyarakat internasional yang tidak terima warganya dieksekusi tidak akan menggoyahkan rencana kita untuk melakukan eksekusi mati," tutur Tony.

‎Pelaksanaan eksekusi mati yang belum ditentukan waktunya ini juga bukan merupakan perang terhadap negara-negara lain. Eksekusi mati dilangsungkan sebagai perang melawan kejahatan narkotika.

"Yang kita 'perangi' bukanlah negara tertentu melainkan perang melawan kejahatan narkotika yang dilakukan oleh terpidana. Justru kita mengimbau agar negara-negara dan masyarakat internasional ikut memeranginya. Kalau tidak mulai sekarang kita bertindak tegas dan keras terhadap kejahatan narkotika, maka kita akan menyesal demi melihat kehancuran peradaban manusia karena narkotika," kata Tony.

Sebelumnya, pihak kejaksaan memastikan 9 terpidana mati akan segera dieksekusi. Kesembilan terpidana mati tersebut telah masuk ke ruang isolasi sejak Jumat malam lalu.

Sebenarnya rencana pelaksanaan eksekusi mati melibatkan 10 terpidana mati. Namun di detik-detik akhir, warga negara Prancis, Sergei Arezki Atloui mengajukan gugatan grasi ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) yang akhirnya lolos dari eksekusi mati tahap selanjutnya.

Meski telah mengkonfirmasi 9 terpidana mati lainnya tetap akan dieksekusi, Tony belum memastikan kapan waktu pelaksanaan eksekusi mati tersebut. Padahal pihak keluarga dan pengacara telah menyebut bahwa eksekusi mati dilakukan pada Selasa (28/4) malam.

Berikut 9 terpidana mati yang akan dieksekusi dalam waktu dekat:
1. WN Filipina, Mary Jane Fiesta Veloso
2. WN Australia, Myuran Sukumaran
3. WN Australia, Andrew Chan
4. WN Ghana, Martin Anderson
5. WN Nigeria, Raheem Agbaje
6. WN Indonesia, Zainal Abidin
7. WN ‎Brazil, Rodrigo Gularte
8. WN Nigeria, Sylvester Obiekwe Nwolise
9. WN Nigeria, Okwudili Oyatanze.

(dha/ndr)
Back To Top