-->
Motivasi Menulis
Bisnis Online
Menyusuri Jejak Para Nabi di Yerusalem

Menyusuri Jejak Para Nabi di Yerusalem

Erwin Dariyanto - detikTravel 
Yerusalem - Jejak para nabi terukir di Yerusalem. Mulai dari Nabi Daud, Sulaiman, Isa, hingga Muhammad. Inilah kota suci 3 agama.

Yerusalem dalam bahasa Arab disebut Ursalim Al Quds yang berarti tempat damai nan suci . Inilah kota bersejarah bagi umat Yahudi, Nasrani dan Islam. Di Yerusalem terdapat tiga bangunan bersejarah yang disucikan oleh umat Yahudi, Nasrani dan Islam. Tak heran bila kawasan ini mendapat julukan Tanah Suci Tiga Agama.

Bagi umat Yahudi, Yerusalem adalah tempat Nabi Daud mendirikan kerajaan Israel pada tahun 1000 Sebelum Masehi setelah mengalahkan Goliath di Filistin yang sekarang dikenal sebagai Palestina. Saat itu kekuasaan Nabi Daud membentang sepanjang tepi Sungai Nil hingga Efrat di Babilonia (Irak).

Setelah Nadi Daud mangkat pada tahun 922 Sebelum Masehi, kekuasaan kemudian diserahkan kepada anaknya Nabi Sulaiman. Di bawah kepemimpinan Nabi Sulaiman inilah dibangun sebuah tempat peribadatan yang dikenal oleh orang Yahudi dengan nama Bait Salomo atau Bait Sulaiman. Bait Sulaiman menurut Alkitab adalah bait suci pertama agama Yahudi kuno di Yerusalem. 


Tembok Ratapan (Erwin/detikTravel)


Setelah Sulaiman wafat, Israel dilanda perang saudara. Wilayah kerajaan pun terbelah menjadi dua; sebelah utara Israel dengan ibu kota Samaria dan bagian selatan Yehuda beribukota Yerusalem.

Akibat perang tak berkesudahan itulah kini Bait Suci tinggal tersisa tembok sebelah barat. Kini sisa-sisa reruntuhan yang diyakini bagian dari Bait Suci menjadi tempat peribadatan umat Yahudi dan dikenal sebagai 'Tembok Ratapan'.

Sekitar 300 meter dari 'Tembok Ratapan' ada lokasi yang diyakini sebagai tempat tinggal dan disalibnya Yesus. Di tempat ini pula terdapat sebuah jalan yang diyakini sebagai tempat Yesus diarak setelah disiksa dan kemudian disalib. Jalan di mana Yesus diarak itu kemudian diberi nama Via Delorosa (Jalan Kesengsaraan) dan menjadi tempat bersejarah bagi umat Nasrani.

Masjid Al Aqsa (Erwin/detikTravel)


Di bagian atas 'Tembok Ratapan', ada Masjid Al Aqsa, tempat bersejarah sekaligus kiblat pertama umat Islam. Masjidil Aqsa merupakan masjid suci umat Islam ketiga setelah Makkah dan Madinah. Di tempat inilah Nabi Muhammad melakukan Miraj dan mendapat perintah Salat. Lokasi persisnya diyakini adalah dari baru Dome of The Rock.

Seperti apa wujud tiga tempat suci dan bersejarah itu saat ini? detikTravel berkesempatan menyusuri Yerusalem tempat suci tiga agama tersebut beberapa bulan silam.

"Ini (Yerusalem) tempat penting dan bersejarah bagi Yahudi, Nasrani, dan Islam," kata Roley Horowitz, seorang pemandu wisata keturunan India berkewarganegaraan Israel yang menemani kami.

detikTravel berkesempatan ke Betlehem melihat Gereja Kelahiran atau Church of Nativity yang dianggap sebagai salah satu gereja tertua di dunia dan dibangun tahun 326 M. Gereja ini dibangun tepat di tempat kelahiran Yesus Kristus dan dianggap sebagai bangunan suci baik oleh umat Kristen maupun Muslim.

Tempat kelahiran Yesus Kristus (Erwin/detikTravel)
Nadien Chandrawinata ketagihan kunjungi Lembata

Nadien Chandrawinata ketagihan kunjungi Lembata

Jakarta (ANTARA News) - Sekali mengunjungi perairan Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT), model Nadien Chandrawinata mengaku ketagihan.

Ia pun berniat kembali mengunjungi kawasan surga "skeleton shrimp" itu suatu hari nanti.

"Lembata itu karena jauh, makanya spesial. Enggak hanya penyelaman di sana yang menyenangkan, masyarakat di sana juga menyambut," ujar Nadien di Jakarta, Kamis.
Menurut dia, masyarakat di Lembata bahkan tak segan menawarkan makanan pada pelancong yang datang.

"Masyarakat setempat menyediakan makanan terus setiap kami berkunjung. Mereka menyambut dengan hangat. Di sana energinya baik sekali. Saya mau datang lagi ke sana," tutur mantan Puteri Indonesia itu.
Di Lembata, Nadien bersama 11 orang lainnya, seperti fotografer Muljadi Pinneng Sulungbudi, Edward Suhadi, Dewi Wilaisono, Malinda Wilaisono, Ferry Rusli, lalu travel blogger Gemala Hanafiah, Marischka Prudence, antropolog Rahung Nasution dan lainnya, menjelajah lalu mendokumentasikan kecantikan alam khususnya laut dan kekayaan budaya setempat.

Hasil penjelajahan mereka kemudian diabadikan dalam sebuah buku berjudul "Lembata Underwater", yang diluncurkan hari ini di Jakarta.

Buku setebal 114 halaman itu menyingkap beragam biota laut yang selama ini terpendam di perairan Lembata, yakni "skeleton shrimp" dengan jumlah luar biasa banyaknya, "Mandarinfish", "Painted Frogfish", "False Clown Anemonefish", "Moon Snail", "Cuttlefish" ,"Devil Scorpionfish" dan lainnya.

Tak hanya itu, adapula rekomendasi 9 titik penyelaman bagi mereka yang ingin mengeksplorasi dunia bawah laut Lembata. Lembata terletak di antara Pulau Flores bagian Timur dan Pulau Alor. Letak geografis Lembata yang berbukit dan dikelilingi laut, menjanjikan pemandangan cantik yang dapat disaksikan di Bukit Doa, maupun puncak-puncak gunung di sana, seperti Gunung Ile Ape Lewotolok.
Editor: Ruslan Burhani
COPYRIGHT © ANTARA 2015
Alhamdulillah, Bisa Salat di Masjid Al Aqsa

Alhamdulillah, Bisa Salat di Masjid Al Aqsa

Erwin Dariyanto - d'traveler -
Telaga Dringo, Surga Kecil di Sekitar Dieng

Telaga Dringo, Surga Kecil di Sekitar Dieng

, 20 September 2015 KOMPAS/P RADITYA MAHENDRA YASA Wisatawan menikmati keindahan matahari terbit di tepi Telaga Dringo di Dataran Tinggi Dieng, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, beberapa waktu lalu. Telaga Dringo menjadi salah satu tujuan wisatawan yang ingin bergaya petualang dengan membuat tenda untuk menginap.

 JAKET tebal dan rapat yang menutup tubuh tak mampu menahan udara dingin yang terus mengusik tubuh saat menunggu munculnya matahari pagi. Angin semilir dari lembah membuat tubuh semakin menggigil beku di tepi Telaga Dringo yang tenang di Dataran Tinggi Dieng, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah.

Dari jauh, di antara hamparan rumput kering, sejumlah tenda menaungi para petualang. Sisa kayu api unggun untuk mengusir kebekuan masih meninggalkan bara. Bulan Juni hingga Agustus memang menjadi musim terdingin di Dataran Tinggi Dieng.

Dringo yang masih sunyi menawarkan pesona alam bagi para penyuka jalan-jalan, saat mengunjungi Dataran Tinggi Dieng. Letaknya yang terpencil dari sekitar kawasan obyek wisata Dieng membuat Telaga Dringo masih sangat jarang dikunjungi.

Akses menuju telaga yang sedikit sulit ditempuh setelah melewati jalan Desa Pekasiran, Kecamatan Batur. Mobil berpenggerak gardan ganda mengantarkan kami melintasi jalan berbatu yang sempit, menanjak dan curam berliku.

Perjalanan yang selama 30 menit dari Desa Kasiran membawa kami sampai ke puncak untuk melihat Telaga Dringo dengan latar belakang pegunungan yang membiru berselimut kabut tipis. Indah…!

Rekan seperjalanan, Dewi Nurcahyani dan Anis Efizudin, tanpa aba-aba mengeluarkan peralatan kamera mereka lalu mengabadikan lukisan alam dari semesta pagi itu. ”Saya telah berkali-kali ke Dieng dan hampir seluruh tempat sudah dikunjungi. Telaga Dringo baru kali ini dan keindahannya masih sangat alami,” kata Anis.

Sementara Dewi yang rutinitasnya bekerja di tengah keruwetan Jakarta, bisa sesaat menyesapi dalam-dalam udara segar dan keluar dari kepenatan. Telepon pintar yang selalu digenggamannya merekam setiap sudut yang dilaluinya.”Membuka pagi yang sempurna,” ujar Dewi setengah berteriak dengan menengadahkan kedua tangannya lebar-lebar ke atas.

Tidak membuang waktu lama di puncak, mereka bergegas turun mendekati bibir telaga menyambut rekahan sinar matahari yang muncul dari balik bukit. Panorama Telaga Dringo yang dibentengi dinding bukit merupakan bekas kawah dari aktivitas vulkanik Gunung Dieng.

Dringo salah satu dari sejumlah telaga di Dataran Tinggi Dieng. Beberapa telaga lainnya telah menjadi tempat wisata utama di Dieng, seperti Telaga Warna, Telaga Menjer, dan Telaga Merdada. Dari air sejumlah telaga itu juga lahan kentang yang selama ini jadi komoditas utama pertanian bertumpu.

Dari Telaga Dringo, ada dua obyek wisata menanti dan menarik dikunjungi, yaitu Sumur Jalatunda dan Kawah Candradimuka. Selain obyek wisata, cerita legenda yang turut mengiringi tempat-tempat itu selalu menarik disimak, apalagi sejarah peradaban kawasan Dieng masa lampau.

Hangat sinar mentari pelan merayapi tubuh mengusir udara dingin yang menyergap. Sejumlah wisatawan yang sejak semalam bertenda, menyambut pagi dengan menyeruput kopi panas. Salah satu dari mereka menyempatkan berfoto dengan membawa sebuah papan bertuliskan ”My Trip My Adventure”.

Permukaan telaga yang tenang berkilau kuning emas mengepulkan kabut tipis menjadi pemandangan menghangatkan. Titik embun yang membeku menjadi butiran es di atas permukaan daun dan rumput pelan-pelan mencair. Warga menyebutnya mbun upas atau butiran es yang biasa merusak daun tanaman kentang ketika suhu di bawah nol derajat.

Promosi

Fenomena penggunaan media sosial dengan mengunggah perjalanan dan lokasi wisata memang menjadi sarana promosi ampuh, termasuk untuk Telaga Dringo. Hasilnya, Dataran Tinggi Dieng yang berada 1.700 meter di atas permukaan laut, dalam beberapa tahun ini, pun mulai banyak dikunjungi wisatawan.

Tumbuhnya industri pariwisata berdampak pada kesadaran warga sekitar untuk terlibat. Anak-anak muda yang sadar akan potensi wisata di daerahnya menawarkan jasa pemandu. Salah satunya Ophik, yang menawarkan jasanya ketika sedang tidak bekerja di ladang kentang.

KOMPAS/P RADITYA MAHENDRA YASA Wisatawan membawa segelas kopi untuk menikmati pagi di tepi Telaga Dringo di Dataran Tinggi Dieng, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah.
Ophik dan kawan-kawannya membuat sejumlah trip perjalanan melihat matahari terbit di sejumlah titik perbukitan. Mereka manawarkan jasa mengantar wisatawan ke tempat yang tak biasa dikunjungi atau lokasi baru di luar obyek wisata utama.

 Upah bergantung pada tujuan dan jarak tempuh. Misalnya, paket pendakian di Gunung Prau, Rp 100.000-Rp 200.000. ”Dringo mulai saya tawarkan dengan promosi telaga yang seindah Ranu Kumbolo (di Pegunungan Tengger di lereng Gunung Semeru, Jawa Timur) agar wisatawan penasaran,” katanya sambil terkekeh. Fenomena mbun upas yang biasa terjadi pada Juli-Agustus juga menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan.

Warga lainnya pun kecipratan rezeki dari menyewakan rumah mereka yang dijadikan penginapan murah. Salah satu contoh, Budi, petani kentang, yang merenovasi sejumlah kamar di rumahnya untuk disewakan.

”Pada awalnya tak saya sewakan, tetapi banyak yang datang dan ingin menyewa. Ya sudah, rezeki,” kata Budi. Tarifnya sekitar Rp 150.000 hingga Rp 250.000 per orang semalam. Para tamu yang menginap pun disambut hangat seperti keluarga.

Agenda budaya yang digelar setiap tahun dan disebarkan melalui jejaring media sosial menjadi magnet yang mampu menarik wisatawan dari sejumlah kota besar untuk datang. Penyelenggaraan pentas musik jazz pada malam hari menjadi sensasi tersendiri bagi kaum urban yang menggigil kedinginan diterpa hawa pegunungan.

Puncaknya saat acara Dieng Culture Festival 2015, 31 Juli-2 Agustus, sekitar 45.000 pengunjung hadir. Penginapan dan hotel telah habis dipesan beberapa bulan sebelumnya, dan sebagian pengunjung mencari penginapan ke rumah warga.

Saat pembukaan Dieng Culture Festival 2015, Gubernur Ganjar Pranowo menyambut positif festival tahunan itu sebagai bentuk promosi wisata. Dia berharap pemerintah daerah yang menaungi dua wilayah di Dieng, yaitu Kabupaten Wonosobo dan Banjarnegara, dapat bersinergi untuk memajukan industri wisatanya.

Pengamatan Kompas, minimnya fasilitas penunjang, seperti tempat sampah dan toilet di Telaga Dringo, menjadi sebuah potret pengelolaan tempat wisata itu belum digarap serius. (P Raditya Mahendra Yasa)

Editor : I Made Asdhiana
Sumber: Harian Kompas
Pemerintah Diharap Bisa Bantu Atur Regulasi Pendakian Carstensz

Pemerintah Diharap Bisa Bantu Atur Regulasi Pendakian Carstensz

Timika - Ekspedisi jurnalis ke Puncak Carstensz di Papua rencananya akan dihadiri dua menteri, yakni Menko Maritim Indroyono Soesilo dan Menpar Arief Yahya. Dua menteri ini diharapkan bisa memberikan regulasi pendakian gunung tertinggi di Indonesia itu.

"Kami mendatangkan Menko dan Menpar sebagai pemerintah bisa memberikan regulasi yang jelas untuk pendakian ke Carstensz," tutur Ketua Yayasan Somatua sekaligus penanggung jawab Ekspedisi Jurnalis ke Carstensz, Maximus Tipagau di Kuala Oriental Restaurant, Timika, Minggu (9/8/2015).

Menurut Maximus, hingga kini belum ada regulasi yang jelas mengenai pendakian ke Puncak Carstensz. Titik tertinggi di Indonesia setinggi 4.884 mdpl yang punya salju abadi dan masuk dalam daftar Seven Summits. Puncak Carstensz, bagaikan harta karun di Papua.

"Kalau ada regulasi yang jelas, investasi akan datang, orang akan datang," katanya.

Maximus menambahkan, ada baiknya pendakian ke Puncak Carstensz dari satu pintu. Sebab, hingga kini memang banyak operator tur yang menawarkan pendakian ke sana tapi cukup meribetkan turis. Satu pintu yang dimaksud pun, yakni melalui masyarakat Papua sendiri.

"Papua sudah tanah, kayu dan emasnya diambil. Masa pariwisatanya juga diambil? Kasihlah ke orang Papua, ke masyarakatnya, ke perusahaan lokalnya," papar Maximus.

Baik Menko Maritim Indroyono dan Menpar Arief Yahya, diharapkan bisa memberikan regulasi pendakian yang jelas. Agar tidak simpang siur, termasuk dari soal biaya pendakian.

"Menko dan Menpar adalah menteri pertama yang datang ke kawasan Puncak Carstensz, di Zebra Wall. Rencananya, mereka akan melaksanakan upacara peringatan upacara HUT RI di sana dan ini menjadi sejarah," tutupnya.
Back To Top