-->
Motivasi Menulis
Bisnis Online
Setelah diluluhlantakkan gempa bumi, Nepal kembali ke bambu

Setelah diluluhlantakkan gempa bumi, Nepal kembali ke bambu

Setelah diluluhlantakkan gempa bumi, Nepal kembali ke bambu
Warga melintas di dekat sebuah gedung yang miring akibat gempa di distrik Sindhupalchowk, Nepal, Rabu 13 Mei 2015. (REUTERS/Ahmad Masood )

London (ANTARA News) - Nepal menoleh kembali ke bambu untuk membangun rumah-rumah dan sekolah-sekolah yang hancur lebur diambrukkan gempa bumi dahsyat tahun lalu yang membuat ribuan orang kehilangan tempat tinggal.

"Bambu adalah material yang hebat. Musuh terbesar (dalam gempa) adalah bobot, sehingga bambu itu sempurna karena ringan, fleksibel, dan sangat kuat," kata arsitek Nepal Nripal Adhikary.

"Bambu bisa sekuat baja, namun jauh lebih ekologis karena tidak memerlukan energi untuk menghasilkannya. Orang sini menyebut bambu 'baja dari tanaman'."
Gempa bumi kembar nan dahsyat pada April dan Mei 2015 telah menewaskan hampir 9.000 orang dan menghancurkan sejuta bangunan di negara di kaki pegunungan Himalaya itu.

Para donatur telah mengalirkan sekitar 4,1 miliar dolar AS untuk rekonstruksi Nepal, namun proses pembangunan kembali tertunda oleh kriris politik.

Adhikary mengatakan pemerintah Nepal belum lama ini menyetujui penggunaan bambu untuk membangun kembali sekolah dan kemungkinan akan dipakai juga untuk membangun rumah.


Bambu memang ideal untuk mendirikan bangunan di Nepal yang bergunung-gunung itu karena di sana tumbuh luas dan mudah diangkut, kata Adhikary, koordinator nasional untuk Jejaring Internasional Bambu dan Rotan Nepal (INBAR).

Membangun rumah dengan bambu juga lebih murah 50 persen ketimbang material-material lain.


Teknologi maju telah meningkatkan daya tahan bambu, kata Adhikary. Sedangkan sistem baru untuk menyatukan panjang bambu mengartikan bambu bisa digunakan untuk membangun struktur yang terentang lebih luas dibandingkan di masa lalu, demikian Reuters.
Editor: Jafar M Sidik
COPYRIGHT © ANTARA 2016
Ketika Para Biksuni Berkumpul di Tenda Pengungsian di Nepal

Ketika Para Biksuni Berkumpul di Tenda Pengungsian di Nepal

Prins David Saut - detikNews

Ketika Para Biksuni Berkumpul di Tenda Pengungsian di Nepal
Bhaktapur - Peristiwa menarik terjadi di salah satu distrik di Nepal. Sebuah lapangan yang menjadi tempat pengungsi gempa Nepal diramaikan oleh para biksuni atau biksu wanita.

Peristiwa ini terjadi di Bhaktapur, Nepal, Minggu (10/5/2015). Puluhan biksuni dengan jubah merah dan oranye berkumpul di tengah lapangan yang berdiri belasan tenda pengungsi berbagai ukuran.

Sebuah meja panjang berada di hadapan mereka dihiasi bunga-bunga dan dua patung Buddha putih di ujung meja. Satu persatu pengungsi yang menganut agama Buddha berbaris, mengambil bunga-bunga itu dan meminta berkat.

"Mereka berkumpul untuk merayakan Waisak, Hari Ibu Taiwan dan hari berdirinya Buddhist Tzu Chi," kata salah satu koordinator, Anil Sakya di lokasi.

Selain merayakan tiga hal tersebut, biksuni ini bersama Buddhist Tzu Chi juga memberikan bantuan kepada para korban gempa di kota bersejarah tersebut. Total ada 7.000 paket bantuan logistik yang dibagikan kepada warga setempat.

"Bantuan ini untuk mereka yang menjadi korban gempa. Total populasi di sini 4.000 orang tapi kami memberikan 7.000 paket logistik untuk mereka," ujar biksu berjubah oranye tersebut.
Sementara itu, menurut Duta Besar Indonesia untuk Bangladesh merangkap Nepal, Iwan Wiranataatmadja, bantuan berupa beras dan perlengkapan MCK. Iwan pun mengapresiasi salah satu yayasan dari Indonesia yang turut membantu mengurangi penderitaan masyarakat Nepal.

"Maka itu, di bawah koordinasi Tzu Chi Indonesia, kita akan terus mengidentifikasikan di mana bantuan ini bisa diberikan," ucap Iwan di lokasi yang sama.



(vid/mok)
Field Hospital Indonesia di Nepal Terbesar Kedua Setelah WHO

Field Hospital Indonesia di Nepal Terbesar Kedua Setelah WHO

Prins David Saut - detikNews

Field Hospital Indonesia di Nepal Terbesar Kedua Setelah WHO  
Foto: David/detikcom 
 
Kathmandu - Rumah sakit darurat dari Indonesia untuk masyarakat korban gempa memasuki hari ketiga operasional di Satungal, Nepal. Ternyata, rumah sakit yang disebut otoritas setempat sebagai field hospital itu memiliki fasilitas terbesar kedua setelah WHO dari PBB.

"Iya, itu memang televisi-televisi lokal yang mengatakan itu (terbesar kedua di Nepal). Ini termasuk yang terbaik di sini setelah WHO," kata Direktur Tanggap Darurat BNPB Junjungan Tambunan di Kathmandu, Nepal, Jumat (8/5/2015).

RS tersebut terbuat dari infleatable tent yang terdiri dari 3 ruangan. Ruangan pertama adalah ruang perawatan, ruangan kedua adalah ruang Intensive Care Unit (ICU) dan ruangan terakhir adalah ruangan operasi lengkap dengan peralatan pendukung operasi ortopedi dan anestesi.

"Sehingga kita jadi referensi dan rekomendasi masyarakat sekitar Satungal. Pemerintah Nepal termasuk militernya juga datang untuk melihat semua kegiatan, kita juga rutin melaporkan kegiatan kita," ujar Junjungan.

Fasilitas field hospital itu disebut-sebut oleh masyarakat setempat memiliki fasilitas yang lebih baik daripada rumah sakit permanen Nepal. Bahkan, pelayanan kesehatan setingkat Puskesmas di Satungal merekomendasikan pasiennya untuk perawatan lebih lanjut di rumah sakit temporer yang dibangun oleh Tim Indonesia Peduli Nepal itu.

"Antusiasme masyarakat dan pemerintah Nepal positif. Aktivitas masyarakat mendukung kegiatan ini, seperti kepala Puskesmas di 3 sub-distrik di Satungal meminta masyarakatnya bergeser ke field hospital Indonesia," ucap Junjungan.


(vid/bal)
Aksi Joah WN Kanada Bantu Penduduk 'Kota Pelajar' Nepal Turunkan Bantuan RI

Aksi Joah WN Kanada Bantu Penduduk 'Kota Pelajar' Nepal Turunkan Bantuan RI

Prins David Saut - detikNews

Aksi Joah WN Kanada Bantu Penduduk Kota Pelajar Nepal Turunkan Bantuan RI
Jakarta - Joah (27) tiba-tiba muncul dari balik mobil truk box biru yang membawa 200 paket bantuan logistik dari Indonesia di 'kota pelajar' Nepal, Kirtipur. Tanpa komando atau rayuan, Joah melangkah maju membantu estafet warga setempat menurunkan paket satu demi satu.

Hal ini terjadi di kota tua Kirtipur, Nepal, Kamis (7/6/2015) pada pukul 15.00 waktu setempat. Pemuda asal Kanada itu sebenarnya sedang berlibur di Nepal sejak sepekan lalu.

"Saya ingin naik ke Everest, tapi tiba-tiba sehari setelah saya sampai terjadi gempa. Waktu itu saya masih di Kathmandu," kata Joah di lokasi.

Sambil meneruskan estafet menurunkan bantuan logistik dari Tim Indonesia Peduli Nepal, Joah menyatakan membantu menurunkan bantuan berupa paket makanan siap saji dan selimut itu secara sukarela.
"Saya menginap di sekitar sini, lalu saya melihat ini. Saya tidak mau hanya jadi sekedar turis setelah gempa itu, jadi saya merasa ini kesempatan saya membantu warga Nepal di sini," ujar Joah.

"Saya tidak bisa menyumbang uang, tapi saya bisa membantu menurunkan bantuan dari Indonesia ini. Ini langkah yang baik," tambahnya.

Joah menambahkan, dirinya mengunjungi Bali dan mendaki Rinjani sebelum tiba di Nepal. "Saya tiga bulan di Indonesia sebelum ke sini. Negeri yang indah. Nepal juga hanya sedang berduka setelah gempa," ucap Joah.

 Gempa 7,9 SR yang terjadi pada 25 April lalu di Nepal memberikan dampak cukup parah ke penduduk setempat. Selain 50 rumah yang hancur dan menyebabkan 500 orang mengungsi, wilayah yang dikenal sebagai area pelajar itu kehilangan pemasukannya.

"Ini area pelajar karena banyak universitas dan sekolah tinggi di sini, seperti Tribhuvan University. Pendapatan 4.000 orang penduduk di sini dari penyewaan indekos," kata Koordinator Lokal, Raju Powdell terpisah.

Menurut Raju, pasca gempa terjadi, hampir seluruh universitas di area itu ditutup sementara. Sehingga para pelajar meninggalkan Kiripur dan kembali ke rumah orangtua mereka masing-masing.

"Jadi tak ada pemasukan untuk warga sini karena gempa terjadi menjelang pergantian bulan. Para pelajar biasanya membayar indekos pada minggu pertama setiap bulan," ucap Raju.

(vid/mad)
RS Darurat Indonesia Peduli Nepal Kebanjiran 425 Pasien di Hari Pertama

RS Darurat Indonesia Peduli Nepal Kebanjiran 425 Pasien di Hari Pertama

Prins David Saut - detikNews

 RS Darurat Indonesia Peduli Nepal Kebanjiran 425 Pasien di Hari Pertama
Kathmandu - Hari pertama RS darurat Tim Indonesia Peduli Nepal kebanjiran pasien warga Satungal, Nepal. Jumlah pasien membludak di hari pertama, total pelayanan yang diberikan kepada para korban gempa 7,9 SR itu adalah 425 orang.

"Sampai pukul 16.00 waktu Nepal, total pasien yang ditangani berjumlah 425 orang," kata Direktur Tanggap Darurat BNPB Junjungan Tambunan di Kathmandu, Nepal, Rabu (6/5/2015).

Rumah sakit berupa tenda itu mulai beroperasi pada pukul 08.30 waktu setempat. Namun antrean warga lokal telah mengular pada pukul 08.00 waktu Nepal. Rata-rata pasien mengeluhkan gangguan pernapasan, gatal-gatal, demam dan batuk.

"Ada juga kasus hipertensi dan beberapa pasien operasi ringan, ada juga yang meminta operasi namun tidak ada riwayat kesehatan maupun hasil foto rontgen. Sehingga hanya diberikan perawatan umum," ujar Junjungan.

Keberadaan rumah sakit lapangan berupa tenda karet berudara ini juga didukung oleh tenaga Puskesmas setempat dan dokter gigi dari RS Kantipur sebanyak 6 orang yang menangani 26 kasus. 20 Sukarelawan dari warga setempat juga turut membantu.

"Juga didukung 20 personel polisi lokal untuk pengaturan pasien, penataan tempat dan pendirian tenda posko tambahan karena pasien yang datang di luar dugaan," ucap Junjungan.



Foto: Tim Indonesia Peduli Nepal

(vid/jor)
Back To Top